Featured Post Today
print this page
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Banner atau spanduk ajakan sholat seperti ini sangat perlu anda sebarkan

Admin | Rabu, Juli 27, 2016 | 1 Comment so far

Didalam kehidupan setiap muslim, aktivitas berdakwah merupakan suatu kewajiban. Dakwah yang dimaksud disini memiliki bentuk yang beraneka macam  mulai dari berjihad dimedan perang, menyampaikan amar makruf nahi mungkar, memberikan nasehat, hingga menyingkirkan duri dari jalan atau bahkan hanya memberikan senyuman. Dalam hal ini Islam tidak mewajibkan umat Islam untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tetapi yang diwajibkan adalah usaha atau iktiar yang maksimal

Dalam kehidupan beragama Islam ditengah masyarakat kita ini, ternyata banyak sekali dari saudara-saudara kita yang beridentitas (ber KTP) Islam tetapi pada kenyataannya jauh dari ajaran Islam. Oleh sebab itu mari kita ajak saudara-saudara kita ini untuk lebih mengenal Islam beserta ajaran-ajarannya. Didalam berdakwah agar dakwah anda diterima dengan baik jangan sekali-kali menyinggung perasaan mereka, mencaci ataupun mengolok-olok apa yang mereka lakukan saat ini. Apabila dakwah anda mencaci ataupun mengolok-olok justru mereka akan semakin menjauh dan akan terus menjauh bahkan memusuhi kita.
Dalam berdakwah mari kita kenalkan dulu dengan hal-hal yang ringan-ringan kemudian kita ajak dan kenalkan dengan sholat, mengingat sholat adalah tiang dari agama. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi “Shalat itu adalah tiang agama (Islam), maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama (Islam) itu dan barangsiapa merobohkannya maka sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu,” .


Sebuah bangunan, setelah adanya pondasi yang merupakan asas sebuah bangunan berdiri, kebutuhan pokok setelah pondasi adalah tiang penyangga, penyokong, soko guru, yang akan menguatkan bangunan tersebut. Apabila sebuah bangunan memiliki 5 buah pilar penyangga, maka jika salah satu dari tiang tersebut roboh maka kekuatan atau kekokohan bangunan tersebut akan berkurang. Demikian seterusnya kekokohan suatu bangunan akan terus berkurang seiring dengan hilangnya pilar-pilar penyangganya satu persatu.
Demikian pula Islam, yang ibaratnya adalah sebuah bangunan dengan syahadat sebagai pondasinya, dakwah dan jihad sebagai atap pelindungnya, dan shalat yang merupakan cerminan syariat Islam sebagai pilar penyangganya. Bila kaum muslimin rajin mendirikan shalat yang 5 waktu secara berjamaah di masjid maka berarti mereka telah mengokohkan pilar-pilar Islam.
Sebaliknya, apabila kaum muslimin malas, ogah-ogahan mendirikan shalat fardhu yang 5 waktu secara berjamaah di masjid, maka berarti mereka telah melemahkan Islam itu sendiri dengan ‘merobohkan’ pilar-pilarnya. Mungkin ini salah satu maksud Islam itu terhalang oleh orang Islam sendiri, Allohu a’lam.

~ Semoga bermanfaat ~

Mizan-Timbangan Amal Perbuatan Manusia (Pengadilan Allah)

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | Be the first to comment!
 
Dalam Al-Qur'an surat Al-Mu’minun (23) ayat 102-10: Allah SWT berfirman yang mengenai mizan atau timbangan amal perbuatan manusia yang Artinya: "Barang siapa berat timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan (kebaikan) nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri mereka kekal di dalam neraka Jahanam. Wajah mereka dibakar dengan api neraka, dan mereka di neraka dalam keadaan muram dengan bibir yang cacat." 
Telah kita ketahui bersama bahwa secara bahasa Mizan artinya adalah timbangan. Pada saatnya nanti Semua Amal perbuatan manusia selama hidup di dunia diperhitungkan  oleh Allah dengan timbangan keadilan dari sang Maha pencipta Allah swt. Mizan atau Timbangan keadilan dari Allah itu memiliki ketepatan yang tidak mungkin meleset sedikit pun. Semua dan setiap amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia dan dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar ditimbang dengan timbangan tersebut. Hasil dari penimbangan amal perbuatan manusia itulah yang akan menentukan apakah seseorang akan hidup berbahagia di surga ataukah hidup sengsara di neraka. Bahkan secara lebih rinci, Allah memberikan informasi kepada kita dalam firmannya di Al Quran surat Al-Anbiya' ayat 47 yang artinya adalah sebagai berikut: 
“Dan kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorangpun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan". Marilah mengumpulkan amalan kebaikan yang banyak, agar kelak timbangan kita lebih berat berpihak kepada kenikmatan dan kebahagiaan

Negara dalam Al-Quran

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | Be the first to comment!
Allah Berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hujuraat ayat 13 “Wahai Manusia, Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantaramu disisi Allah adalah yang paling takwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal”. Salah satu pokok perintah yang secara jelas dapat kita lihat dalam Surat Al Hujuraat ayat 13 adalah perintah agar kita bersosialisasi kepada masyarakat sekeliling kita, tanpa harus membedakan bangsa, agama, suku ataupun dari golongan mana individu tersebut berasal. Dengan kata lain salah satu kewajiban yang diperintahkan oleh Tuhan kepada manusia adalah untuk hidup bermasyarakat, yang tentunya tidak dapat lepas dari konsep tentang hubungan antar manusia sebagai individu yang merupakan unsur terkecil dalam membangun sebuah masyarakat.


Al Qur’an merupakan rujukan pertama yang harus dilihat oleh semua Umat Islam untuk menafsirkan atau mencari penyelesaian dari sebuah permasalahan. Karena Al Quran adalah cermin untuk melihat diri sendiri, apakah kita sudah berbuat sesuai dengan tuntunan yang diberikan, kata Syu’bah Asa. Konsepsi Islam tentang kehidupan sosial masyarakat, lebih menekankan kepada sifat kolektifitas, bukan pada individual, karena memang salah satu misi utama yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak umatnya dan menata kembali pranata sosial masyarakat Arab yang masih berada dalam masa kegelapan atau yang lebih disebut sebagai masyarakat Arab jahiliyah.
Yang dilakukan oleh Nabi Muhammad pada saat itu adalah mengajarkan kepada masyarakat Qurays tentang hakekat dan kedudukan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, disamping mengajarkan tentang tauhid tentunya. Nabi mengajarkan persaudaran diantara sesamanya, saling hormat menghormati dan tolong menolong antar sesamanya. Walupun banyak mendapat hambatan, akan tetapi ternyata konsep yang diajarkan Nabi tentang kehidupan bermasyarakat lambat laun mendapat sambutan orang-orang Arab, setelah Nabi hijrah ke Madinah yang pertama kali dilakukanya adalah mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin walaupun keduanya datang dari dua suku yang berbeda.

Nabi mengajarkan untuk tidak pernah membeda-membedakan sesorang dalam berinteraksi bahkan terhadap orang yang berlainan agama dengan beliau, bahkan terhadap suku bangsa yang telah memerangi beliau dan kemudian kalah. Ini tercermin saat Nabi berhasil menaklukan semua suku Arab yang ada. Saat itu suku-suku tersebut bertanya apakah nasib yang akan mereka alami jika tidak menganut Islam. Kemudian Nabi bersabda : “jika kamu tetap bertahan memeluk agama dan kepercayaanmu, hak-hakmu tetap dijamin dan dipelihara. Hak kebebsan memilih agama, jiwamu, hartamu dan kehormatanmu tetap dijamin. Hak-hak kewarganegaraan yang diperoleh seorang Muslim haknya sama juga bagimu.

Sikap dan keputusan Nabi yang tetap menghormati hak-hak individu dalam kehidupan bermasyarakat ini jugalah yang kemudian di contoh oleh para Khulafaurrasyidin. Seperti yang dilakukan Umar Ibn Khattab saat menaklukan penduduk Jarjan. Dalam salah satu pasal perjanjian antar Khalifah Umar dengan penduduk Jarjan berbunyi “hak hidup orang-orang Jarjan, jiwanya, hartanya, kehormatanya, dan kebangsaan serta kepercayaanya dijamin, Negara tidak akan ikut campur dalam urusan pribadi mereka”. Jika kita mau untuk melihat dan mengkaji secara mendalam, akan ada banyak hal yang dapat dipetik dari sikap dan kebijaksanaan yang diambil oleh Nabi maupun Khalifah Umar tersebut. Salah satu yang sangat menonjol adalah pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak azasi oleh negara.

Masih banyak contoh-contoh keputusan-keputusan yang diambil oleh Nabi dalam menghadapi permasalahan yang menyangkut tata cara berinteraksi dalam masyarakat. Semua keputusan yang diambil oleh Nabi lebih mengedepankan kepada kepentingan bersama (umat), walaupun dalam masyarakat tersebut terdapat perbedaan agama, suku maupun kepentingan politik.

Dalam Al Qur’an sendiri Allah memerintahkan kepada setiap manusia untuk berlaku adil kepada sesamanya, hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al Maidah ayat 8 yang menyatakan “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang yang selalu menegakan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.”. Dari ayat tersebut secara tegas dinyatakan tidak ada alasan yang dapat membenarkan suatu kaum untuk berlaku tidak adil terhadap kaum yang lainya. Nabi mempraktekkan perintah yang tercantum dalam Surat Al Maidah tersebut saat beliau memimpin umatnya di Madinah. Belaiu mengajarkan untuk menghormati kepada semua warga (negara) Madinah, walupun berbeda agama. Bahkan Nabi sendiri menjamin adanya hak dan kewajiban yang sama bagi setiap warga Madinah terhadap negaranya. Seperti hak untuk ikut mempertahankan wilayah Madinah jika diserang oleh penguasa daerah lain, hak untuk tetap menganut Agama dan kepercayaan yang diyakininya.

Terhadap orang-orang non Muslim yang tidak memerangi orang Islam, Nabi Muhammad bahkan memberikan perlindungan terhadap hak-hak mereka sebagaimana orang Islam. Oleh Nabi mereka digolongkan sebagai orang kafir “dzimmi”. Makna kata dzimmi sendiri berarti “orang yang dijamin hak-haknya”. Dan arti lainya adalah “menerima tanggung jawab dari suatu masalah”. Perlakuan Nabi terhadap mereka yang bukan muslim yang digolongkan sebagai orang dzimmi merupakan bentuk dari cita-cita beliau untuk pelaksanaan dari konsep “musawaat” dalam Islam. atau hak-hak asasi yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa membedakan agama atau kepercayaannya.

Bahkan terhadap orang non muslim yang berhenti memerangi muslim, Nabi kepada mereka menyatakan : “Apabila mereka yang non muslim ingin tinggal dalam lingkungan pemerintahan kaum muslimin, dan bersedia membayar pajak, mereka akan dijamin untuk memperoleh hak yang sama dengan yang diperoleh orang Islam. Atas mereka juga terkena kewajiban yang sama dengan yang dipikul oleh orang Islam”. Karena penghormatan-penghormatan terhadap Hak azasi manusia yang seperti inilah tercermin kewibawaan dan kebesaran suatu pemerintahan. Maka tidak heran jika kemudian para sejarawan mengakui bahwa negara Madinah dengan Piagam Madinahnya dibawah Pimpinan Nabi Muhammad SAW merupakan corak negara modern pertama yang pertama ada di dunia. Dan Piagam Madinah merupakan Konstitusi modern pertama yang melindungi hak azasi warga negaranya.

Dalam konsep kehidupan bermasyarakst sendiri, Agama Islam lebih menekankan kepada pentingnya kehidupan sosial. Pembentukan masyarakat dalam Islam merupakan satu kesatuan yang khusus, berbeda dengan dunia luar karena mempunyai idealektika yang sama serta hak dan kewajiban yang timbal balik. Sebenarnya konsep kelompok masyarakat seperti itu tidak hanya ada dalam Islam saja, hanya saja ide tentang kelompok atau komuniti atau umat hanya terdapat dalam Islam. Meskipun begitu bukan berarti kelompok yang ada dalam Islam tersebut bersifat eklusif, menyendiri dan menolak berhubungan yang yang lainya. Akan tetapi justru sebaliknya, setiap orang muslim dalam interaksinya dengan umat yang lainya di perintah oleh Allah untuk saling kenal mengenal walaupun berbeda suku, bangsa, agama maupun kepercayaan, karena memang begitulah salah satu perintah Allah kepada manusia (lihat Al Qur’an Surat Al Hujuraat ayat 13).

Islam mengajarkan tentang pentingnya persatuan umat manusia. Karena manusia tidak mungkin untuk hidup sendiri secara terpencil. Setiap muslim berkewajiban untuk hidup sebagai umat yang bersatu dan tidak terpecahkan, berpegang kepada cita-citanya dibawah petunjuk pemimpin mereka yang memiliki otoritas terhadap umat tersebut. Pentingnya pemimpin dalam Islam didasari adanya keinginan yang ada dalam diri manusia untuk mendominasi dan menguasai yang merupakan watak bawaan dalam manusia. Sehingga memungkinkan untuk mendorongnya melakukan tindakan tanpa pikiran atau merusak demi mendapatkan keinginannya. Dengan adanya pemimpin tersebut diharapkan akan ada yang dapat mengatur setiap tindakan dari manusia sehingga ketertiban dan keteraturan hidup dalam komunitas umat tersebut dapat tercapai.

Tolong Menolong dalam Kebajikan

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | Be the first to comment!

 

Di dalam Al-Quran Surah Al-Maidah/5:2)
”Hendaklah kamu tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah saling membantu dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras dalam hukuman-Nya.”

Melalui ayat ini Allah swt. menyuruh umat manusia untuk saling membantu, tolong menolong dalam mengerjakan kabaikan/kebajikan dan ketaqwaan. Sebaliknya Allah melarang kita untuk saling menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran.

Sebagai makhluk sosial, manusia tak bisa hidup sendirian. Meski segalanya ia miliki: harta benda yang berlimpah sehingga setiap apa yang ia mau dengan mudah  dapat terpenuhi, tetapi jika ia hidup sendirian tanpa orang lain yang menemani tentu akan kesepian pula. Kebahagiaan pun mungkin tak pernah ia rasakan.

Lihat saja betapa merananya (nabi) Adam ketika tinggal di surga. Segala kebutuhan yang ia perlukan disediakan oleh Tuhan. Apa yang ia mau, saat itu juga dapat dinikmatinya. Tetapi lantaran ia tinggal sendirian di sana , ia merasa kesepian. Segala yang di sediakan oleh Sang Pencipta bak terasa hampa menikmatinya.

Dalam kesendirian yang diselimuti rasa kesepian itu Adam berdo’a pada Tuhan agar diberikan seorang teman. Allah pun mengabulkannya. Maka sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, Allah pun menciptakan Hawa (Eva dalam Al-Kitab) untuk menemani Adam.

Sebagai makhluk social pula manusia membutuhkan orang lain. Tak hanya sebagai teman dalam kesendirian, tetapi juga partner dalam melakukan sesuatu. Entah itu aktivitas ekonomi, social, budaya, politik maupun amal perbuatan yang terkait dengan ibadah kepada Tuhan. Di sinilah tercipta hubungan untuk saling tolong menolong antara manusia satu dengan yang lainnya.

Nah, Allah swt. memberikan rule (kaidah/panduan) agar dalam melakukan tolong menolong itu seyogyanya ketika kita melakukan hal-hal yang baik, tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah keagamaan maupun budaya atau norma yang berlaku di masyarakat di mana kita tinggal.

Tentu kita prihatin manakala membaca berita-berita di media massa maupun menyaksikan sendiri di lingkungan kita, bahwa ada banyak orang atau kelompok justru saling bau membau, tolong menolong dalam melakukan kebathilan. Entah itu pencurian, korupsi, pembunuhan, penindasan, penculikan, kekerasan, pembabatan hutan, dsbg. Semuanya dilakukan secara berjamaah. Bukankah hal ini bertentangan dengan anjuran Tuhan sebagaimana tertuang dalam ayat di atas?

Padahal, konon, negeri ini adalah satu negeri yang dihuni oleh mayoritas umat Islam terbesar di belahan dunia. Bukankah ini ironi?

Setiap hari mesjid dan  mushola kian bertambah. Jamaahnya pun kian membludak. Tiap tahun jumlah jemaah haji juga kian tak terbendung, selalu melebihi kuota. Syi’ar-syi’a agama juga menghiasi media massa baik cetak maupun  elektronik. Bahkan piranti teknologi informasi mutakhir bernama telepon seluler dapat kita manfaatkan sebagai media belajar agama. Apa yang kurang dari semua itu?

Nampaknya kita memang mesti menelaah ulang, merenungi kembali model keberagamaan kita selama ini. Jangan sampai terjebak pada hedonisme religius, taat secara ritual, tetapi miskin secara spiritual dan subtansial.

Sambil mencermati kembali ayat di atas, kini saatnya, sebagai muslim Indonesia , kita belajar untuk dapat menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia. Tentu kita semua ingin bahwa bangunan ukhuwah islamiyah yang sudah terbangun di antara internal umat Islam dapat meluas menjadi ukhuwah wathoniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan antar sesama manusia) tanpa harus melihat asal usul, warna kulit, asal suku bangsa. [ ] Ahmad Nurcholish

Tolong menolong dalam Hadis ke-36 ( Hadis 40 Imam Nawawi )

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | Be the first to comment!

no-36

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طِرِيقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِهذَا اللَّفْظِ



MAKSUD HADIS

Hadis diriwayatkan oleh al-lmam Muslim dengan lafaz ini.
Daripada Abu Hurairah r.a. daripada Nabi SAW, Baginda telah bersabda:
Barangsiapa yang melepaskan seorang mukmin daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan dunia, nescaya Allah akan melepaskannya daripada satu kesusahan daripada kesusahan-kesusahan Qiamat. Barangsiapa yang mempermudahkan bagi orang susah, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutup ke’aiban seorang muslim, nescaya Allah akan menutup ke’aibannya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa bersedia menolong hambaNya selagi mana dia suka menolong saudaranya. Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, nescaya Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan menuju ke syurga. Sesuatu kaum tidak berkumpul di salah sebuah rumah-rumah Allah (iaitu masjid) sambil mereka membaca Kitab Allah dan mengkajinya sesama mereka melainkan suasana ketenangan akan turun ke atas mereka, rahmat akan melitupi mereka dan mereka akan di kelilingi oleh para malaikat dan Allah akan menyebut (perihal) mereka kepada orang-orang yang berada di sisiNya. Barangsiapa yang terlambat amalannya, nescaya nasab keturunannya tidak mampu mempercepatkannya.

HADITH 36

It was related on the authority of Abu Hurairah, radiyallahu ‘anhu, that the Prophet, , said:
“Whosoever relieves from a believer some grief pertaining to this world, Allah will relieve from him some grief pertaining to the Hereafter. Whosoever alleviates the difficulties of a needy person who cannot pay his debt, Allah will alleviate his difficulties in both this world and the Hereafter. Whosoever conceals the faults of a Muslim, Allah will conceal his faults in this world and the Hereafter. Allah will aid a servant (of His) so long as the servant aids his brother. Whosoever follows a path to seek knowledge therein, Allah will make easy for him a path to Paradise. No people gather together in one of the houses of Allah, reciting the Book of Allah and studying it among themselves, except that tranquillity descends upon them, mercy covers them, the angels surround them, and Allah makes mention of them amongst those who are in His presence. Whosoever is slowed down by his deeds will not be hastened forward by his lineage.”
[Muslim]

Pengajaran hadis:

(1) lslam adalah agama tolong menolong, bantu membantu dan saling memperkuat antara satu sama lain. Faktor inilah merupakan teras kekuatan umat lslam dan rahsia besar kegemilangan tamadun lslam yang silam.
(2) lslam menggalakkan umatnya agar selalu melepaskan saudaranya yang dalam kesempitan dunia, yang berada dalam kesusahan hidup dan melindunginya serta memelihara ke’aibannya daripada disebarluaskan di kalangan manusia. Semua perbuatan tersebut dijanjikan Allah balasan yang setara dan setimpal dengan perbuatannya.
(3) Allah akan sentiasa menolong hamba-hambaNya selagimana mereka suka tolong menolong sesama Mmereka.
(4) llmu adalah cahaya menuju ke syurga. Barangsiapa yang menuntut ilmu, dengan niat ikhlas, Allah menjanjikan baginya kemudahan menuju jalan ke syurga.
(5) Berkumpul dan mengkaji al-Qur’an dan ilmu di masjid adalah antara amalan yang amat diberkati Allah. Para malaikat turun mengelingi mereka, ketenangan dan rahmat menyelubungi mereka. Mereka mendapat penghormatan agung dari Allah SWT apabila Dia menyebut nama mereka kepada para penghuni langit.
(6) Sesungguhnya manusia dimuliakan dan memasuki syurga dengan amalannya dan rahmat Allah, bukannya dengan keturunan. Barangsiapa yang amalannya kurang dan atau amalan jahatnya menyusahkannya di akhirat nanti, nasab keturunan kebangsawanannya tidak mampu sama sekali memberi syafa’at kepadanya. Secara tidak langsung hadis ini menggesa umat lslam agar berbekaldengan amalan soleh untuk menghadapi hari akhirat nanti.

Dalil Perintah Tolong Menolong dalam Islam

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | 1 Comment so far

Arti tolong menolong dalam islam berasal dari bahasa arab ta'awun berasal dari bahasa Arab yang artinya tolong-menolong. Menurut istilah dalam Ilmu Aqidah dan Akhlak, pengertian ta'awun adalah sifat tolong-menolong di antara sesama manusia dalam hal kebaikan dantakwa. Dalam ajaran Islam sifat ta'awun ini sangat diperhatikan, hanya dalam kebaikan dan takwa, dan tidak ada tolong-menolong dalam hal dosa dan permusuhan. Oleh karena itu sifat ta'awun atau tolong-menolong termasuk akhlak terpuji dalam agama Islam.
Dalil Al qur'an dalam Firman Allah Ta'ala dalam surat Al-Mäidah (5) ayat 2:

Artinya: "...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan".
Sesungguhnya sifat dan sikap ta'awun atau tolong menolong ini telah dimulai pada awal kelahiran dan perkembangan agama Islam. Dalam sejarah banyak sekali perilaku Nabi dan para sahabat, serta kaum muslimin yang berkaitan dengan sikap ta'awun. Kita ketahui, betapa Siti Khadijah dengan harta dan dorongan semangatnya telah menolong perjuangan Rasulullah saw. dalam menyiarkan ajaran Islam. Begitu pula yang dilakukan oleh para sahabat terutama Abu Bakar al-Shiddiq, Usman bin Affan, Abd al-Rahman bin Auf, adalah para sahabat Nabi yang terkenal telah mengorbankan seluruh hartanya untuk menolong perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan agama Islam. Begitu pula Abu Bakar al-Shiddiq menolong dengan membebaskan Bilal bin Rabah, budak yang telah masuk Islam dan mendapat penyiksaan dari majikannya.
Ketika Rasulullah dalam keadaan terkepung hendak dibunuh oleh orang-orang kafir, Ali bin Abi Thalib bersedia mengorbankan jiwa dan raganya menggantikan untuk tidur di tempat tidur Rasul sehingga orang-orang kafir yang hendak membunuh Nabi menyangka Rasulullah masih tidur, padahal beliau sudah keluar tanpa diketahui oleh mereka. Hal seperti itu dilakukan oleh Ali untuk menolong Rasulullah dari ancaman pembunuhan.
Umar bin Khaththab, secara diam-diam sering keluar rumah, masuk kampung keluar kampung untuk mengetahui keadaan rakyatnya, dan selalu menolong rakyatnya yang kesusahan.
Ketika Nabi beserta kaum muslimin hijrah ke Madinah, terjalin suasana yang penuh keakraban dan saling menolong antar kaum Anshar (penduduk Madinah) dengan kaum Muhajirin (kaum muslim yang datang dari Mekah).
Sebagai makhluk sosial, dalam kehidupannya sehari-hari, manusia saling membutuhkan antara sesamanya. Orang miskin membutuhkan pertolongan dari yang kaya berupa makanan, uang, dan materi yang lainnya. Orang yang kaya pun membutuhkan pertolongan dari orang yang miskin berupa jasa, tenaga, dan sebagainya.
Menolong orang bukan hanya dengan harta atau materi, tetapi bisa juga dengan tenaga, dengan ilmu, nasihat, dan sebagainya. Pada suatu hari Rasulullah memperingatkan kepada para sahabat.
"Tolonglah saudaramu, baik yang dianiaya orang maupun yang menganiaya!"
Sahabat bertanya: "Bagaimana cara kami menolong orang yang menganiaya?"
Rasulullah saw. menjawab: "Engkau cegah dia melakukan penganiayaan. Dengan demikian engkau telah menolong orang yang menganiaya itu dari perbuatan dosa".
Mari kita hendaknya membiasakan diri untuk bersikap ta'awun atau saling menolong mulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya meminjamkan pensil atau penghapus kepada teman yang memerlukan, menunjukkan alamat kepada orang yang menanyakan alamat kepadamu, menyampaikan kabar tentang temanmu yang tidak masuk sekolah karena sakit, dan sebagainya.
Jika kita sudah terbiasa menerapkan sifat ta'awun ini dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan senantiasa peduli terhadap kesulitan orang lain dan berusaha sedapat mungkin untuk menolongnya. Jika kita suka menolong orang maka kita pun akan ditolong orang. Mungkin orang yang menolong itu adalah orang yang pernah kita tolong, atau mungkin juga orang yang menolong kita adalah orang yang tidak pernah kita tolong atau orang itu tidak pernah kita kenal. Sebaliknya, jika kita tidak pernah menolong orang, maka kita pun tidak pernah ditolong orang.
Sebaliknya jika kita menolong dengan ikhlas kita sudah merasa bahagia, karena kita sudah berbuat baik, dan orang yang kita tolong dapat mengatasi kesulitannya.

Membiasakan tolong-menolong antar sesama merupakan sikap ta'awun.

Kita harus memegang prinsip islami dalam mengaplikasikan tolong-menolong kepada sesama manusia dalam kehidupa sosial masyarakat kita, yakni terbatas pada kebaikan dan takwa. Bagaimanapun bentuk dan caranya tetapi kita tetap pegang teguh pada prinsip tersebut.

semua orang kedudukannya sama di depan hukum Allah

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | Be the first to comment!

walaupun Anak Nabi SAW apalagi Sahabat Nabi SAW.. Rasul SAW pernah bersabda : “Apabila Fatimah mencuri akan kupotong tangannya”

apakah kedudukan seseorang itu mempengaruhi kedudukannya di hadapan hukum?
semua orang kedudukannya sama di depan hukum Allah.

Adapun kemuliaannya di sisi Allah swt tentu adalah hal lain, tentu kita meyakini kemuliaan Sayyidatina Fatimah Az Zahra, sebagai Ahlul Bayt & Kecintaan RasuluLlah.
Jadi kemuliaannya tidak disama ratakan, sedangkan kedudukannya di hadapan hukum Allah swt yang sama.

Bila berhadapan dengan HUKUM semua sama tidak memandang derajat.
Menghormati Sahabat harus dilandasi dan disebabkan karena Allah dan RosulNya.
Bukan karena sahabat itu sendiri karena mengikuti semua sahabat tidak ada dasarnya sbg pedoman.
Secara umum kita mesti menghormati sahabat namun jika terbukti ada sahabat yg tersalah maka tidak boleh dipaksakan atau diperjuangkan menjadi benar.

Rasul SAW pernah bersabda : “Apabila Fatimah mencuri akan kupotong tangannya”
Apabila anda berhadapan dengan HUKUM ISLAM walaupun pada Zaman Sahabat maka yang menjadi Hakim adalah mereka yang mengerti mengenai Hukum Islam ( Hukum Allah ).

Dan menurut anda pada waktu itu siapa dari mereka yang paling mengetahui Hukum Allah.
Apakah Abubakar atau Ali b. Abi Thalib?
Jika Anda katakan Ali bin Abi Thalib dan Abubakar pengetahuan dalam syari’at sama.
Kalau demikian anda TIDAK JUJUR. Abubakar dan Umar pernah bersabda : ” KALAU TIDAK ADA ALI KITA CELAKA”.

Abubakar tidak mengetahui mengenai hukum waris KALALAH.
Abubakar berkata: Saya akan mengatakan berdasarkan pendapatku. Kalau benar maka itu dari Allah dan kalau salah itu dari AKU dan SETAN, Allah dan Rasul berlepas darinya. ( Tafsir at Thabari 6.30; Tafsir ibnu Katsir I/140 dll lagi)
Bagaimana anda katakan Abubakar juga pandai dalam ilmu syari’at ?
Dihadapan Allah semua sama yang membedakan adalah Takwa.
Dihadapan Allah tidak ada saksi yang memutar balikan fakta.
Saksi dihadapah Allah adalah Rasul dan para utusan Allah
Kalau anda memakai Hukukm Allah atas tanah Fadak. Maka Abubakar tdk berhak mengambil tanah Fadak. Terkecuali Dhalim. Karena tanah Fadak adalah milik pribadi Rasul
.
Bagaimana mungkin bertanya kedudukan hukum terhadap Fatimah dan Ali dihadapan Abubakar. Abubakar tidak berhak mengadili mereka. Karena KEDUDUKAN mereka dimata Allah sangat berbeda dengan Abubakar
Menurut Imam Ali dan Fatimah Abubakar telah mendhalimi Hak mereka. Sekarang saya minta Nash bahwa para Nabi/Rasul tdk meninggalkan WARISAN terkecuali SADAQAH. Bagaimana sanggupkah anda
.
Memang benar. Kedudukan dihadapan Allah mempengaruhi dihadapan hukum (Ingat lhoo HUKUM ALLAH). Sebab sebelumnya anda bertanya dihadapan hukum Allah.
Kita sekarang telah mengalami banyak perobahan serta pemutar balikan fakta. Islam yang kita anut.
Saya tidak akan menganut secara TAKLID kepada mereka terdahulu apalagi setelah banyak mempelajari dari ber-macam2 Mazhab. Oleh karena itu sesuatu hadits yang saya terima belum langsung saya terima.

Saya periksa dulu apakah hadits tsb tdk bertentangan dengan Al Quran.
Kalau BERTENTANGAN walaupun SANAD shahih tetap saya tolak.
Karena Rasul adalah PEMBAWA KEBENARAN dan Firman2 Allah dalam Al Qur’an ABSOLUT BENAR, maka tdk mungkin bertentangan
.
Kita kembali pada persoalan kita diatas
Ayat menurut hukum di KENAKAN kepada semua hamba Allah yang BERTAKWA tdk ada pengecualian.

Rasulullah SAW ada pemimpin para Muttaqin.
Disinilah letaknya komitmen seorang mukmin. Seorang mukmin harus menjawab dengan jujur dan penuh kesedaran. Masyarakat seperti apakah yang ia inginkan? Masyarakat kumpulan hamba-hamba Allah yang beriman dan patuh berserah-diri kepada Allah? Ataukah ia puas dengan berdirinya suatu masyarakat yang terdiri atas kumpulan manusia yang tidak peduli taat atau tidaknya mereka kepada Allah asalkan yang penting masyarakat itu berjalan dengan harmoni tidak saling mengganggu dan menzalimi sehingga semua merasa gembira hidup bersama berdampingan dengan damai di dunia?

Seorang mukmin tidak pernah berpendapat sebelum ia bertanya kepada Allah dan RasulNya. Terutama bila pertanyaannya menyangkut urusan yang fundamental dalam kehidupannya. Oleh kerananya marilah kita melihat bagaimana Allah menyuruh kita bersikap bila mana menyangkut urusan hukum. Di dalam Kitabullah Al-Qur’an Al-Karim terdapat banyak ayat yang memberikan panduan bagaimana seorang mukmin mesti bersikap dalam urusan hukum. Di antaranya sebagai berikut:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…”(Surah Al Maidah ayat 49)

Dalam buku “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” Muhammad Nasib Ar-Rifa’i menerangkan potongan ayat yang berbunyi “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah…” dengan catatan sebagai berikut: “Hai Muhammad, putuskanlah perkara di antara seluruh manusia dengan apa yang diturunkan Allah kepadamu dalam kitab yang agung ini (iaitu Al-Qur’an)…”

Sedangkan firman Allah:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Surah Al Maidah ayat 50)
.
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, iaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (Surah Al-Maidah ayat 48)

Ali b. Abi Thalib. mantu Nabi, seorang yang didik Nabi dari kecil, seorang laki2 PERTAMA yang shalat dibelakang Nabi. Seorang yang Khalifah Abubakar dan Umar mengatakan : “Kalau tdk ada Ali maka celakalah kami. Dan
Hasan b. Ali b. Abi Thalib cucu Nabi, Penghulu Pemuda Ahli Surga.
Apakah mereka menurut anda2 orang2 Mukmin atau bukan? Kalau anda2 katakn BUKAN maka anda2 adalah PEMBOHONG BESAR..

Dan apabila anda2 mengatakan mereka orang2 Mukmin. Maka siapa saja yang membunuh mereka DIA bukan seorang Mukmin dan akan menerima sesuai FirmanNya diatas. Apakah kita sebagai umat Islam harus membela orang2 yang Allah berikan ganjaran sesuai Firman diatas?
Dan Muawiyah yang memerintahkan pembunuhan terhadap  Hasan as.

Silahkan anda2 pencinta Muawiyah membantah. Kalau tidak anda2 adalah PEMBOHONG BESAR.
Guru bisa sama tapi murid berbeda dalam menyerap ilmu. Tergantung tingginya Intelgensia (kemampuan menyerap)

Sebab menurut pengetahuan kita atau dalam mempelajari agama Islam (kita tdk berada bersama Rasul) ternyata Islam ini telah disewengkan oleh mereka2 pasca Rasul. Banyak bukti. Contoh, banyak para Ulama menganggap Rasul sama dengan kita hanya beliau mendapat Wahyu. Apakah ini benar?. Kemudian menurut sejarah atau Hadits Pengganti Rasul Ali b. Abi Thalib. Tetapi ternyata yang menjadi Khalifah pasca Rasul adalah Abubakar. Benarkah ini. Ahlulbait bukan saja Rasul, Ali b Abi Thalib, Fatimah, Hasan. dan Husein tapi termasuk istri2nya. Benarkah ini. Ini semua harus kita selidiki/pelajari. Karena sangat berpengaruh dalam Ibadah kita. Jangan hanya TAKLID menjadi orang ABID. Firman Allah : Kedudukan mereka yang berilmu jauh lebih tinggi derajatnya
.
Saya takut atas Firman Allah : Apakah kalau orang2 tua dahulu Jahil yang akan mengajak kamu keneraka akan tetap kamu ikuti.?

Al-Baqarah ayat 170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?.”


Wasalam

Keadilan Allah bagi Makhluk-Nya

Admin | Rabu, Mei 20, 2015 | Be the first to comment!



REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT disebut dalam Alquran dengan sebutan Al-Ahkam atau Al-Hakim yang artinya Hakim Yang Paling Adil (QS.95,8).

Karena keadilan-Nya, Allah SWT disebut juga oleh Alquran dengan sebutan Al- 'Adl (Tuhan Yang Maha Adil). Adil karena memberikan kepada makhluk hak mereka serta ditempatkan-Nya masing-masing makhluk-Nya itu pada posisi yang sesuai dengan tabiat mereka.

Allah SWT juga tidak pernah membebankan suatu taklif yang tidak sesuai dengan kemampuan manusia (ahliah), seperti firman-Nya yang artinya, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, la mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (QS.2,286).

Atas landasan demikian, ulama usul fikih sepakat menetapkan bahwa ahliah merupakan dasar adanya taklif, baik dalam bentuk ahliyyah Al-wujub (kecakapan menerima hak) maupun ahliyyah Al-ada’ (kecakapan bertindak hukum). Atas dasar ahliyyah Alwujub, segenap manusia dapat menerima haknya selama dia memiliki kehidupan yang sempurna dan tidak dapat menerima haknya secara penuh jika kehidupan yang dimilikinya hanya dalam bentuk kehidupan yang tidak sempurna, seperti kehidupan janin di dalam perut ibunya.

Demikian pula, atas dasar ahliyyah Al-ada', segenap manusia dibebani tanggungjawab penuh, namun jika kecakapan itu belum dimiliki oleh seseorang secara sempurna, seperti pada anak kecil. Maka taklif atasnya tentu tidak sama dengan orang dewasa yang mempunyai kemampuan penuh.

Keadilan Allah SWT amat luas, banyak yang tak terkira oleh manusia. Ada suatu hal yang dipandang buruk oleh manusia, tetapi justru di dalamnya tersimpan keadilan. Sebaliknya, ada pula sesuatu hal yang dipandang baik dan adil oleh manusia, tetapi justru di dalamnya terdapat ketidakadilan.

Alquran menyebutkan, "...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS.2,216).

Atas dasar keadilan itulah Allah SWT memperlakukan segenap makhluk-Nya. Setiap orang, laki-laki dan perempuan mendapat perlakuan yang sama di sisi Allah SWT. Alquran menjelaskan, "Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki- laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." (QS.4,124).

Setiap perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkannya secara sendiri-sendiri di hadapan Tuhan di akhirat kelak. Setiap perbuatan baik akan dibalas dengan pahala dan pelakunya akan mendapat ganjaran surga sedangkan perbuatan jahat akan dibalas dengan dosa dan pelakunya ditempatkan di neraka.

Oleh sebab itu, tidak ada amal yang sia-sia, semuanya akan diadili oleh Allah Yang Maha Adil secara teliti, sehingga tak seorang pun yang merasa teraniaya. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh. maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali, kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba- hamba(Nya)." (QS.41,46).

Syariat Islam yang bersumber dari Allah SWT merupakan syariat yang berlandaskan keadilan Imam Muhammad Abu Zahrah, ahli hukum Islam dari Mesir, mengatakan bahwa keadilan merupakan tujuan syariat Islam yang paling utama dan mulia.

Di atas landasan keadilan itu manusia menempati kedudukannya yang paling tinggi di antara makhluk, makhluk Allah SWT. Dalam kedudukan demikian antara satu dan yang lain menempati posisi yang sama di mata hukum. Masing-masing individu mempunyai hak yang sama dan hak itu diimbangi pula dengan kewajiban yang harus dipikulnya. Karena itu, tidak boleh ada di antara manusia yang menindas sesamanya.

Keadilan Allah SWT tidak terlepas dari sifat Ar- rahman (Yang Maha Pemurah) dan Ar-rahim (Yang Maha Penyayang) serta sejumlah sifat jamal (keindahan), seperti Al-Ganiy (Yang Maha Kaya), Al-Gahr (Yang Maha Pengampun), Ar-Ra ‘uf (Yang Maha Lembut), At-Tawwab (Yang Senantiasa Menerima Tobat), Al-Hallm (Yang Maha Penyantun), Al-‘Afuwwu (Yang Maha Pemaaf), Asy-Syakur (Yang Memberi Pahala Berlipat Ganda), As-Salam (Yang Menciptakan Damai), Al-Mu’min (Yang Memberi Keamanan), Al-Barr(Yang Maha Dermawan), Al-Wasiy (Pemberi Yang Berlimpah), Al-Wahhab (Yang Maha Memberi), Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki), Al- Hafiz (Yang Maha Menjaga), Al-Latif (Yang Maha Halus), dan lain-lain.

Karena itu, keadilan Allah SWT merupakan keadilan yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Hal ini dikatakan dalam Alquran, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS.21,107).

Di samping sifat-sifat jamal di atas, keadilan Allah SWT tidak pula terlepas dari sifat-sifat yang mulia atau agung), seperti Al- 'Aaz (Yang Maha Perkasa), Al-Jabbar (Yang Maha Memaksa), Al-Mutakabbir (Yang Memiliki Kebesaran), Al-Matin (Yang Maha Kuat), Al-Qadir atau Al-Qadir (Yang Maha Kuasa), AI-Muntaqim (Yang Menetapkan Pembalasan) dan lain-lain.

Dengan adanya sifat-sifat demikian, maka keadilan Allah SWT dapat ditegakkan. Bertolak dari hal demikian, maka keadilan Allah SWT dapat mendorong manusia untuk senantiasa menjauhkan diri dari kejahatan dan selalu berupaya untuk melakukan baikan.

Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: hannan putra

منبع : republika.co.id

Runtuhnya Ka’bah di Akhir Zaman

Admin | Minggu, Juli 06, 2014 | Be the first to comment!

BANYAK riwayat yang menguatkan tentang akan runtuhnya Ka’bah di akhir zaman. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ka’bah akan diruntuhkan oleh seorang yang berkaki bengkok berkebangsaan Habasyah.”

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah melakukan thawaf di Baitullah semampu kalian sebelum kalian dihalangi untuk melakukannya, seolah-olah aku melihatnya sedang melakukan hal tersebut. Tanda-tandanya: berkepala dan bertelinga kecil, dia menghancurkan Ka’bah dengan beliungnya.”

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tandanya orang tersebut berkulit hitam, kakinya bengkok (seperti letter O), dia meruntuhkan batu dinding Ka’bah satu per satu.”

Diriwayatkan dari Sa’id bin Sam’an radhiallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bercerita kepada Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki (Imam Mahdi) akan dibai’at di antara sudut (tempat Hajar Aswad) dan Maqam Ibrahim, dan Ka’bah tidak akan dirusak kehormatannya melainkan oleh orang Arab sendiri, dan bila mereka telah merusak kehormatan Ka’bah, maka itulah saatnya kehancuran bangsa Arab, kemudian datang orang-orang Habasyah meruntuhkan Ka’bah yang setelah itu tak pernah dibangun kembali selama-lamanya, dan merekalah yang menggali harta yang terpendam di dalamnya.”

Hadis di atas tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebuah pasukan hendak menyerang Ka’bah, hingga ketika mereka berada di sebuah padang pasir, semua pasukan ditenggelamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam bumi.”

Ibnu Hajar dalam bukunya “Fath al-Bari” dalam bab: runtuhnya Ka’bah, berkata: “Hadis-hadis di atas menjelaskan akan terjadinya penyerangan terhadap Ka’bah. Penyerang pertama dimusnahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebelum mereka sampai ke Ka’bah, dan penyerangan kedua dibiarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sepertinya penyerang yang dimusnahkan terjadi lebih awal.”

Dan jangan sampai timbul pertanyaan: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggagalkan penyerangan tentara bergajah terhadap Ka’bah padahal saat itu Ka’bah belum menjadi kiblatnya umat Islam, maka mana mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan bangsa Habasyah menghancurkannya setelah Ka’bah menjadi kiblatnya umat Islam?

Pertanyaan ini tak akan muncul, andai dijelaskan bahwa peristiwa runtuhnya Ka’bah akan terjadi nanti di akhir zaman menjelang kiamat terjadi. Di waktu itu tidak ada seorang pun di permukaan bumi yang mengucapkan, “Allah! Allah”, seperti yang disebutkan dalam shahih Muslim: “Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi orang yang mengucapkan, “Allah! Allah.” [Sumber: Sejarah Kota Mekah oleh Syaikh Syaifurrahman Mubarakfury]

Jodoh Tak Akan Tertukar

Admin | Selasa, Juni 24, 2014 | Be the first to comment!

Pertengahan tahun 2002
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Bagi sebagian orang mungkin bukan hal yang ‘wah’. Tapi bagi Indra, bisa duduk di bangku kuliah merupakan suatu hal yang luar biasa. Dulu, mungkin itu hanya mimpi baginya. Tapi lihatlah, betapa indah rencana Allah.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
Indra terus mengulang-ulang ayat ini dikala apa yang ia harapkan belum bisa dicapai. Karena mungkin terlalu banyak nikmat yang belum sempat disyukuri. Sehingga, Allah menangguhkan nikmat lainnya. Karena Ia tidak ingin hamba-Nya menjadi orang yang  kufur nikmat.

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?
“Woiiii, melamun aja!!!” tiba-tiba Panji menepuk punggung Indra dari belakang.
“Barakallah akhi, semoga menjadi keluarga yang samarada alias sakinah mawaddah warahmah dan dakwah. Komplit itu baru mantap,” ucap Indra spontan untuk menutupi kegugupannya.

Alhamdulillah luar biasa, Panji memang hebat. Di usia yang masih cukup belia dia sudah berani meminang seorang akhwat yang usianya terpaut cukup jauh, lima tahun. Tapi, bukannya Indra tidak sehebat Panji. Walau mereka masih duduk di semester tiga. Indra juga sudah berkeinginan untuk menikah. Tapi ia belum cukup berani melangkah. Profesinya yang hanya sebagai guru ngaji dan marbot masjid membuat nyalinya benar-benar ciut. Indra hanya bisa berharap, suatu saat ia akan merasakan kebahagiaan yang  sama seperti Panji.

Indra bertekad bahwa tiada hari tanpa shalat Hajat. Ia kencangkan amalnya. Doanya, “Ya Allah, izinkan hamba lulus tepat waktu dan segera memiliki ma’isyah. Ya Allah, jadikan hidup hamba yang singkat ini penuh manfaat. Jangan jadikan hamba beban bagi siapa pun. Ya Allah, berilah hamba istri shalihah sebagai teman berjihad di jalan-Mu, aamiin.” Sejak saat itu, doa ini selalu menghiasi shalatnya. Bisiknya dalam hati, “My dream must be comes true,” dan Mushalla yang menjadi tempat tinggal Indra ini menjadi saksi bisu. Karena ia yakin, someone in somewhere still waiting for him. Dan Indra tidak akan membiarkannya menunggu terlalu lama.

Oktober 2004
Alhamdulillah, selangkah lebih maju menuju si wajah imut yang belum bernama. Hari ini, Indra akan diwisuda tepat waktu. Walau hanya ditemani oleh adiknya, tapi ia tetap bersyukur. Menikmati momen wisuda yang ia perjuangkan dan ini menjadi bukti bahwa Indra benar-benar selangkah lebih maju menuju si wajah imut yang sudah ia rindui sejak dua tahun yang lalu.

Lelah perjalanan dalam bus selama 8 jam terbayar sudah. Berkumpul dengan keluarga adalah nikmat yang menjadi obat lelah badan. Indra ingin berbagi kebahagiaan atas wisudanya dengan keluarganya di kampung halaman.

“Sudah wisuda, Ndra? Sudah kerja?”, tanya seorang sahabat sewaktu SMA dulu. Melihat Indra hanya menyunggingkan senyum, ia paham dan langsung menawari Indra untuk bekerja di CVnya yang letaknya cukup jauh di pedalaman. Meski awalnya Indra ragu, ia yakin setiap tempat yang Allah persembahkan untuknya adalah jalan untuk lebih dekat dengan si wajah imut, “Siapa yang tahu kalau si wajah imut itu ternyata bermukim di tengah hutan? Hahahahaha.” Indra menertawakan diri sendiri.

Akhir November 2004
Mungkin memang terlalu cepat untuk memberi kesimpulan. Tapi, hampir dua bulan berada di sini, bekerja di tengah hutan rimba ternyata membuat Indra tidak nyaman. Entah kenapa, ia merasa kalau tetap berada di sini, si wajah imut yang dinanti kian menjauh.

Beruntung, di tengah kegelisahannya, seorang paman menawari bekerja di sebuah proyek pertambangan migas di kampung asalnya yang sudah lama ditinggalkan sejak ia berusia empat tahun. “Mungkin, ini bagian dari skenario Allah bagiku untuk menuju si wajah imut. Heehee. Lagi-lagi, si wajah imut.” Indra tersenyum penuh keyakinan. Karena ayah dan ibunya juga memberikan support penuh. Dengan Bismillah, ia berangkat.

Desember 2004
Jangan tanya Indra bekerja sebagai apa? Karena kerjanya adalah sebagai pembersih roda alat berat. Jangan tanya semangatnya. Karena semangatnya luar biasa. Ia yakin, bahwa dirinya sampai di sini karena takdir. Yaitu takdir yang akan mempertemukannya dengan si wajah imut. Lebay. Indra benar-benar menunjukkan kesungguhannya untuk mengumpulkan ma’isyah agar segera menjemput si wajah imut. Apapun ia kerjakan, asalkan halalan thayyiban, maju terus.

Akhir Januari 2005
Mungkin, ini ujian pertama bagi Indra untuk menuju si wajah imut. Di tengah-tengah semangat mencari ma’isyah dan keyakinan bahwa di sinilah tempatnya mendapatkan ‘aisyah ‘si wajah imut’nya pupus sudah. Indra dan beberapa rekannya ternyata direkrut hanya untuk mengejar target saja. Kini, amplop yang berada di genggamannya berisikan gaji pertama dan terakhir sama sekali tidak membuatnya bergairah. Ia nelangsa. Rapuh.

Indra benar-benar bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia malu kalau harus pulang kampung dengan tangan kosong. Maka, jadilah ia “si Cicak” masjid yang siang malamnya selalu di masjid. Ia mulai mengevaluasi diri, amalnya dan niatnya. Indra pulang ke kostnya hanya untuk keperluan makan. Bahkan, di hari Senin dan Kamis, ia berpuasa dan menghabiskan harinya di masjid. Karena ia benar-benar ingin bertaqarrub dengan Tuhannya.

***
Akhirnya, Indra memutuskan untuk berjaulah ke kota yang tempatnya hanya berjarak satu jam dari tempat proyek. “Allah, betapa indah rencana-Mu. Selangkah kudatang, berlari Kau mendekatiku.” Indra menemukan kembali markas dakwah yang sebenarnya juga sangat ia rindui. Mulai saat itu, ia kembali mengikuti kajian mingguan. Lingkaran cinta yang lama terputus, sekarang kembali ia rajut. Tekadnya bulat. Ia harus lebih baik dari kemarin dengan membuat rekam jejak dakwah di manapun kaki berpijak. Karena hidup terlalu singkat hanya untuk dunia.

Awal April 2005
Dua bulan sudah Indra menjadi pengangguran terdidik. Sedih? Pasti. Tapi, ia yakin akan rencana-Nya. Ia tetap memaksimalkan hari-harinya dengan mengajar tahsin beberapa karyawan di salah satu perusahaan di kota yang sama. Para peserta tahsin mencoba memberikan Indra honor. Tapi, ia menolak karena niat awalnya hanyalah dakwah. Untuk berbagi ilmu dan membumikan al-Qur’an.  Walau pada awalnya Indra hampir tergoda karena memang membutuhkan uang untuk sekedar menopang hidup di perantauan.

Para peserta tahsin tidak diam begitu saja melihat penolakan Indra atas honor yang mereka berikan. Mereka tetap mencoba memberikan ‘sesuatu’ yang sangat dibutuhkan oleh guru mereka, Indra.
“Ndra, aku sudah berbicara dengan bagian Personalia. Kebetulan, kami sedang membutuhkan tenaga IT. Bersediakah?” Ucap teman dekatnya yang juga binaan tahsin.

Tanpa basa basi, Indra menganguk  pasti.
“Alhamdulillah, harapan itu masih ada.” batinnya mengucap syukur.
“Tapi, kita masih tetap rutin tahsin mingguan, kan?” ucap Hendri penuh tanya.
“Yoi, Bro. Itu pasti selama nafas masih berhembus.” jawab Indra dengan senyum penuh kelegaan.

Tidak menunggu waktu lama, keesokan harinya, tepat 4 april 2005 Indra resmi menjadi salah satu karyawan di salah satu perusahaan sebagia IT support. Dengan senyum penuh bahagia, ia tatap hangatnya sinar mentari Dhuha dengan berucap penuh percaya diri, “Ya Allah, saksikanlah bahwa aku akan segera menjemput si wajah imut sebagai teman untuk berjihad di jalan-Mu”. Proposal yang berisikan biodatanya pun ia layangkan. Berharap terbang tepat ke si wajah imut yang dinanti.

Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang engkau dustakan?

 24 April 2005
Sore itu, Indra duduk agak gelisah di pelataran masjid bertemankan belaian angin yang membuat rerumputan bergoyang lembut berirama, indah dipandang dan sejuk terasa. Ia sedang menunggu Murabbinya dengan sesuatu yang akan mendekatkannya dengan si wajah imut.

“Assalamualaikum, akh,” tiba-tiba sang Murabbi sudah duduk di sebelah Indra.
“Wa’alaikumsalam, ustadz.” jawabnya dengan senyum, sedikit gugup
Tanpa basa basi, Ustadz Rafiq langsung memberikan tausyiah untuk Indra guna memantapkan niatnya menggenapkan separuh diin, “Menikah bukan hanya menyatukan dua insan, tapi dua keluarga besar. Menikah bukan hanya soal cinta, tapi membentuk batu bata pertama suatu peradaban. Menikah bukan hanya soal mencari pasangan hidup, tapi ingatlah bahwa ia nanti akan menjadi madrasah pertama anak-anakmu. Jika ia baik, maka baiklah generasi selanjutnya. Jika ia buruk, maka buruklah generasi selanjutnya.” Singkat, namun penuh makna. Sebelum berpamitan, Indra dititipkan amplop yang berisikan biodata seorang akhwat.

Indra menatap Ustadz Rafiq hingga berlalu. Amplop yang sekarang berada di tangannya dipeluk erat. Seolah tak ada seorang pun yang boleh merebutnya. Di dalam bus perjalanan pulang yang kebenaran kosong, dengan debaran jantung yang mengalahkan deru suara bus yang melaju kencang, Indra membuka amplop dengan bismillah. Indra memejamkan mata sembari menyingkirkan foto berukuran 3×4, lalu ia buka mata sambil menyelami huruf demi huruf yang tertara rapi di atas kertas double folio.

“Mmmmm….. Tulisannya rapi. Namanya cantik. Secantik orangnya, gak ya?” batinnya terus berburu. Sambil senyum-senyum sendiri, ia lanjutkan menelusuri baris demi baris tulisan.

“Usianya empat tahun lebih tua. OK, tidak masalah. Tamatan DIII, sama sepertiku. Anak kedua. Pas banget nich, karena aku anak pertama, sukunya? Mmmm, meski berbeda jauh, asalkan tarbiyah aku yakin itu semua bisa diatasi. Awal mulai tarbiyah kok bisa sama juga ya? Waahhhh, kayaknya ini memang jodohku deh. Kriteria yang dicari sepertinya aku bisa memenuhinya.” Batinnya penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dengan seyum yang masih tetap mengembang. Beruntung, sekali lagi beruntung. Penumpang bus ini hanya Indra seorang. Kalau tidak, bisa-bisa dikara orang gila beneran.

Dan, inilah sesi terakhir dari penelusurannya. Indra harus melihat fotonya.
“Ya Allah… Dadaku semakin sesak. Debaran jantungku kian tak beraturan. Masya Allah… Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku jatuh cinta pada pas foto hitam putih berukuran 3×4 ini. Aku yakin, dia orang yang cantik. Sangat cantik.” Indra terus tersenyum bahagia. Akhirnya si wajah imut yang dinanti sekarang sudah di depan mata.

Akhir Mei 2005
“Ndra, jangan lupa. Kuatkan dengan istikharah minimal dalam dua minggu ini.” ucap Murabbi Indra dengan penuh kasih sayang.  Dan hari-hari berikutnya, ia lalui dengan doa yang sedikit memaksa, “Ya Allah, jodohkanlah aku dengan dia.” penggalan doa ini tak pernah absen dari tiap shalat yang Indra lakukan.

Indra benar-benar jatuh cinta. Ke mana-mana, amplop berisi biodata itu ia bawa. Bahkan pada saat tidur pun, ia letakkan di samping bantalnya, “Apakah cinta memang bisa membuat orang gila? Entahlah….” gumamnya dalam hati. Indra telah jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya.

Beberapa malam berlalu dengan sholat istikharah yang tidak pernah terputus. Akhirnya, Indra bermimpi melihat seorang perempuan dengan mengenakan mukenah putih sedang melakukan shalat. Dan wajah itu, wajah yang dilihat dalam mimpi itu, begitu mirip dengan wajah dalam pas foto 3×4. Keesokan harinya, dengan keyakinan penuh dan kemantapan hati yang kokoh, ia memutuskan untuk melanjutkan proses berikutnya, ta’aruf.

Awal Juni 2005
Hari ini adalah hari yang paling membosankan bagi Indra. Ia tidak masuk kerja bukan karena sakit, tapi karena malas. Ia merasa jenuh dengan rutinitas kerjanya. Pergi saat matahari baru muncul dan pulang saat matahari telah terbenam. Ia bosan. Semangatnya yang dulu menggebu-gebu lenyap seketika. Shalat malamnya hilang. Saum Senin dan Kamisnya juga hilang. Tilawahnya menurun.

Ia marah dengan dirinya sendiri. Kecewa dengan ketidakberdayaannya saat beberapa hari yang lalu Murabbinya mengatakan bahwa si akhwat mengundurkan diri dan belum siap untuk proses selanjutnya. Indra ingin menggugatnya. Ia ingin tahu alasan sebenarnya. Kalau itu karena persyaratan, ia akan berusaha sampai titik kemampuan terakhir untuk memenuhinya. Tapi, tidak. Tidak mungkin Indra melakukan itu semua. Karena itu adalah pilihan si akhwat berwajah imut dan ia harus menghormatinya. Akhirnya, dengan berat hati dan sedikit terpaksa, Indra mengembalikan biodata itu ke Murabbinya.

Seseorang yang belum pernah ia lihat batang hidungnya, telah mampu membuatnya patah hati untuk yang pertama kalinya.

Juli 2005
Luka hatinya belum sembuh. Isi kepalanya hanya ada wajah pas foto hitam putih 3×4 itu. Ia belum bisa lepas dari bayang-bayang si wajah imut. Dan sekarang, sebuah amplop lain berisi biodata baru telah ia terima. Indra hanya membacanya sekilas dan beberapa hari kemudian ia kembalikan biodata itu ke Murabbinya.

“’Afwan ustadz. Saya gak nemuin feel dengan akhwat di biodata itu.” jawabnya singkat saat ditanya alasannya kenapa menolak. Ia tahu yang ia lakukan salah. Menolak dengan alasan yang tidak syar’i itu tidak benar. Tapi, hatinya sudah terlanjur dipenuhi bayang-bayang wajah pas foto hitam putih.

Namun, niat awalnya untuk segera menikah demi menjaga kehormatan diri juga tidak bisa ia tunda terlalu lama. Akhirnya, seminggu kemudian Indra kembali ke Murabbinya. Meminta agar dicarikan kembali  seorang akhwat yang kira-kira cocok untuknya.

“Kali ini adalah yang terakhir. Jika tidak ada alasan syar’i, gak boleh nolak ya?” ucap Murabbinya dengat tegas. Namun, Indra lupa untuk kembali meluruskan niatnya dan memperbaiki visi misinya untuk menikah. Ia lupa untuk melupakan wajah dalam pas foto itu. Ia lupa untuk setidaknya menyingkirkan bayang-bayang itu.

Akhirnya, biodata baru ia terima kembali. Indra membacanya dengan perlahan dan ia hampir pingsan saat mengetahui jarak usianya lima tahun lebih tua. Ia langsung menolak. Tidak ada yang membuatnya tertarik dengan biodata itu. Tapi, ia pun sudah kehabisan alasan untuk mengembalikan proposal biodata itu, “Nggak banget deh ini akhwat.” ucapnya dalam hati. Kali ini, Indra sudah mulai menilai dari fisik. Ia hanya menilai dari sisi dunia tanpa mempertimbangkan sisi akhirat yang seharusnya menjadi pertimbangan utama.

Kebetulan, ayah dan ibunya datang dari kampung. Ia pun meminta tanggapan orangtuanya tentang calon yang ditawarkan oleh Murabbinya, “Ini lebih cocok jadi bibimu, daripada istrimu.” ucap ayahnya spontan. Indra menganguk menyetujui ucapan ayahnya sambil berucap. “Setuju, Yah. Heehee.”

Akhirnya, Indra mengajak ayah dan ibunya silaturahim ke rumah Murabbinya. Dengan bantuan mereka, Indra bisa mengembalikan biodata itu dengan cara yang halus. Dasar Indra otak kancil, “Astaghfirullah, astaghfirullah” ucapnya berulang kali. Karena ia tahu, ia kembali melakukan kesalahan yang sama: menolak tanpa alasan yang benar-benar syar’i.

Agustus 2005
Yah, wajar jika Murabbi Indra merasa kecewa. Dua proposal biodata berturut-turut ia tolak dengan alasan yang tidak syar’i.  Indra bukannya tidak tahu yang ia lakukan salah, tapi kecenderungan terhadap si wajah imut yang terbingkai dalam pas foto 3×4 itu membuatnya bersikap keterlaluan.

Sejak saat itu, Indra benar-benar kehilangan keberanian untuk menatap wajah Murabbinya. Ia merasa bersalah atas sikap ketidakdewasaannya. Namun, lingkungan kerja yang keras dan kebiasaan buruk rekan kerjanya yang suka ‘jajan’ di luaran karena jauh dari keluarga, membuatnya terus berpikir keras bagaimana menyelamatkan diri dari fitnah dan maksiat.

Ia mulai menata hatinya. Hari-harinya ia perbanyak dengan kembali memperkuat amal ibadah. Surah ar-Rahman, al-Waqiah dan al-Mulk menjadi konsumsi tambahan hariannya dan ia mulai meresapi arti dari surah-surah itu hingga harapannya muncul kembali. Indra kembali bersemangat dan mulai proaktif dalam menjemput si wajah imut yang dinanti.

Tiba-tiba, Indra teringat dengan seorang temannya waktu kuliah, Raihan. Raihan memiliki seorang adik perempuan yang insya Allah shalihah. Yang sekarang sudah duduk di bangku kuliah semester tiga. Dengan semangat dan keberanian yang maksimal, Indra menghubungi Raihan untuk mengutarakan maksudnya agar bisa dita’arufkan dengan adiknya.

Tidak menunggu lama, Raina, Raihan, dan Murabbiyah Raina menerima proposal Indra. Raina sebelumnya juga sudah mengenal Indra sewaktu pertama kali memasuki dunia kampus. Indra juga yang mengajak Raina untuk bergabung di barisan dakwah ini. Indra memang tidak salah menilai Raina. Sekarang Raina tumbuh menjadi akhwat yang cerdas, cantik, dan menjadi mahasiswa teladan di kampusnya. Raina memang anak  luar biasa dan Indra mulai mengaguminya.

Mendapatkan lampu hijau dari orang terdekat Raina, dengan hati yang mulai berbunga-bunga, Indra langsung menceritakan niatnya untuk segera menikahi Raina kepada orang tuanya. Orang tua Indra pun setuju dan mereka sangat bahagia. Akhirnya, Indra jauh melangkah lebih dekat dengan si wajah imut yang dinanti.

 7 Oktober 2005
Merasa segala sesuatunya berjalan lancar, akhirnya Indra menceritakan semua tentang Raina dan rencanya. Tidak ada yang ia sembunyikan. Walau ia tahu, sang Murabbi pasti merasa kecewa dengan tindakannya yang sudah sejauh ini tanpa sedikitpun melibatkan Murabbinya.

Namun, Indra berjanji kepada Murabbinya untuk menyegerakan pernikahannya. Agar tidak timbul fitnah di antara keduanya. Ramadhan kali ini pun ia lalui dengan berjuta harap. Semoga niat menjemput si wajah imut benar-benar terlaksana. Dan di bulan ini juga, Raina akan meminta restu kepada orang tuanya. Agar setelah lebaran sesuai rencana, mereka bisa menikah. Sungguh, hari demi hari yang ia lalui terasa lebih lama. Tak sabar ia menanti hari bersejarah itu, yang tinggal selangkah lagi.

27 Oktober 2005
Allah sangat mencintai Indra. Ia kembali diuji. Rencana yang sudah ia persiapkan matang-matang kembali harus dibatalkan. Orang tua Raina ternyata memiliki pola pikir yang berbeda. Anggapan di kampung Raina, bahwa nikah muda adalah hal yang negatif membuat orangtua Raina kekeh dengan pendiriannya untuk menolak rencana pernikahan mereka.

Bersyukur, Indra masih sadar dengan posisinya sebagai aktifis dakwah. Ia tidak mau berlama-lama dengan kondisi yang seperti ini. Dengan berat hati, Indra memutuskan hubungannya dengan Raina untuk kebaikan bersama karena menunggu Raina hingga wisuda memberi banyak potensi fitnah untuk keduanya. Indra khawatir terjebak zina hati, jika harus menunggu selama itu.

Tapi, meski patah hati untuk kedua kalinya, Indra tetap merasa lega karena ia dengan berani mengambil keputusan yang tepat, walau berat. Bagaimanapun juga, menjalin hubungan tanpa kejelasan status sama halnya dengan pacaran. Darinya banyak potensi dosa yang akan terlahir.  Indra tidak terlalu merasakan sakit hati seperti saat pertama kali patah hati. Mungkin, ini hasil pelajaran yang ia terima dari peristiwa yang lalu. Atau, mungkin Allah memberikan hati yang lebih ‘dewasa’ atas ketegasan sikapnya, memilih menjauh dari yang ia cintai demi menjaga kedekatannya dengan Rabbnya. “Alhamdulillah, semua peristiwa memang ada hikmahnya,” bisiknya dalam hati yang penuh kecintaan atas skenario Ilahi.

November 2005
Petualangan Indra untuk menjemput si wajah imut begitu melelahkan. Mungkin beberapa orang akan beranggapan bahwa Indra akan patah arang untuk menikah. Tapi, tidak! Itu salah besar. Indra malah semakin semangat mencari si wajah imut yang dinanti. Karena perkara ini harus segera dituntaskan.

Beberapa hari menjelang lebaran, Indra memberanikan diri menghubungi Murabbinya. Ia bercerita tentang keputusan orang tua Raina. Dengan menebalkan muka dan telinganya, ia kembali meminta untuk dicarikan calon istri.

“Saya bersedia. Tapi dengan syarat langsung ta’aruf tanpa proses pertukaran biodata terlebih dahulu.” ucap Ustadz Rafiq dengan tegas tanpa basa basi.

Indra hanya diam dan mengangguk pelan. Jangankan untuk protes, melihat wajah Murabbinya saja ia sangat malu. ia sangat malu atas lakonnya terdahulu. “Iyalah, ustadz. Whatever.” jawabnya dalam hati tanpa perlawanan. Indra benar-benar pasrah. ia menyerahkan semuanya kepada Murabbinya itu.

Secepat kilat, hanya berselang beberapa hari saja, Ustadz Rafiq sudah menemukan calon untuk Indra yang siap untuk ta’aruf. Hari-harinya berjalan seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Karena prinsipnya sekarang berbeda, “Kalau memang jodoh, pasti si wajah imut yang dinanti kian mendekat. Tapi kalau memang belum jodoh, ya sudah. Mungkin di lain waktu dan tempat, si wajah imut yang lain sudah menuggu. Ngapain terlalu dipikirkan?”

Sekarang, Indra sudah lebih pasrah, lebih ikhlas dalam menjalani skenario Ilahi yang dititipkan untuknya. Ia jauh lebih dewasa dalam menyikapi hari-harinya yang lalu. “Bisa jadi, aku memang harus menata hidupku untuk sementara waktu hingga waktu itu akan tiba dengan sendirinya. Atau, bisa jadi Allah menunda pernikahanku atas niat dan caraku yang mulai bengkok. Karena tidak akan ada keberkahan di sana.” ucapnya sekali waktu kepada sahabatnya, Akram.

Sabtu, 12 November 2005
Hari ini hujan rintik memberi nada pada indahnya pagi yang Allah persembahkan untuk hamba-Nya. Indra bersiap untuk berangkat kerja di tengah dinginnya udara dengan jiwanya yang benar-benar baru. Semangatnya yang baru. Langkahnya yang kian tertata. Tak ada lagi keluh kesah seperti dahulu, yang ada hanya Indra yang optimis karena Allah yang menjadi sandaran.

Di dalam bus karyawan menuju kantor, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Menandakan ada panggilan masuk. Dalam posisi berdiri dan berdesak-desakan dengan karyawan lain, Indra tetap mengangkat ponselnya karena itu panggilan dari ustadz Rafiq, “Mungkin ada sesuatu yang penting.” batinnya.
“Hallo… Assalamualaikum, Ustadz.”

“Wa’alaikum salam, Akhi. ‘Afwan, akhwat yang ana tawarkan sama antum kemarin ana ganti ya?” ucap Ustadz Rafiq santai, tanpa beban.
“Ya, ustadz. Gak apa-apa. Ana tsiqah aja,” jawab Indra dengan malas.
“Tapi, insya Allah besok kita tetap ta’aruf, kok.” tambah ustadz Rafiq lagi.
“Kalau boleh tahu, dengan siapa ustadz?” tanya Indra datar.
“Dengan akhwat yg pertama dulu. Katanya sekarang dia udah siap.”
Degg. Tiba-tiba, jantung Indra berdegup kencang melebihi biasanya. Lidahnya kelu. Ia ingin tertawa  bahagia, tapi ia tahan. Ia ingin sujud syukur, tapi tidak bisa. Ia ingin menangis haru, tapi malu. Hatinya kembali disusupi oleh cinta yang sama. Cinta yang sudah ia ikhlaskan. Anggota tubuhnya berhenti bereaksi untuk sesaat. Ia terdiam.

“Hallo.. Hallo.. Gimana? Besok bisa? Kalau bisa ana konfirmasi sama akhwatnya?”
“Ya.. yaa.. ustadz, insya Allah ana bisa,” jawab Indra.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

13 November 2005
Selesai shalat Ashar, Indra dengan ditemani ustadz Rafiq mendatangi rumah Ustadzah Anna, Murabbiyahnya Diandra, yang akan menjadi calon istri Indra. Di sana, Diandra telah menunggu. Tidak lupa, ustadz Rafiq dan ustadzah Anna memberikan tausyiah untuk Indra juga Diandra sebelum memasuki sesi tanya jawab. Menit-menit berlalu setelah tausyiah berakhir tidak ada yang berani memulai untuk bertanya.

Indra benar-benar nervous. Ia tidak ingin kehilangan si wajah imut dalam bingkai pas foto hitam putih berukuran 3×4 untuk kedua kalinya. Ia tidak ingin memberikan pertanyaan karena takut pertanyaannya akan menyulitkan Diandra sehingga dia berubah pikiran lagi. Maka, Indra pun memilih untuk diam karena benar-benar tidak ingin kehilangan Diandra.

Ustadz Rafiq dan Ustadzah Anna pun bingung dengan sikap diam yang diambil oleh Indra dan Diandra. Sampai akhirnya, Diandra membisikkan sebuah pertanyaan kepada ustadzah Anna.
“Akhi, akhwatnya tanya kalau di rumah antum kira-kira diterima gak orang yang berjilbab lebar?”
Indra hanya tersenyum geli, “Pertanyaan klise,” batinnya.

Tapi tetap ia jawab, “Keluarga ana sudah paham dengan tarbiyah, baik orangtua maupun adik-adik.”
Dengan pertanyaan itu, Indra juga dituntut untuk memberikan pertanyaan. Ia bingung harus bertanya apa. Tanpa berpikir panjang, pertanyaan itu pun keluar dari mulutnya, “Kalau ana sih, pingin tahu aja. Kira-kira akhwatnya mau gak jadi istri saya. Kalau mau, kapan saya boleh mengkhitbah?”
Ustadz Rafiq dan Ustadzah Anna pun tertawa atas pertanyaan Indra.

“Antum gimana sih? Kok to the point gitu?” kata ustadz Rafiq masih dengan tawa kecilnya.
“Loh ngapain ribet-ribet, toh saya gak keberatan sama sekali dengan akhwatnya. Jadi tinggal jawaban akhwatnya aja, kan?” Indra menjawab santai walau hatinya harap-harap cemas. Berharap agar Diandra segera menjawab dengan anggukan tanda setujunya dan cemas kalau-kalau Diandra tidak menyukai sikap to the pointnya.

Ustdzah Anna dan Diandra pamit ke belakang sebentar untuk berdiskusi. Tidak menunggu lama, berselang beberapa menit saja, Ustadzah Anna muncul dan menyampaikan keputusan Diandra, “Alhamdulilah akhwatnya setuju dan siap menuju tahap berikutnya,” ucap ustadzah Anna dengan senyum mengembang.

19 November 2005
Hari ini menjadi salah satu hari yang istimewa bagi Indra. Ia ditemani Ayah dan ustadz Rafiq berangkat menuju kampung halaman Diandra. Tanpa kendala berarti, lamarannya diterima. Kali ini, ia benar-benar mendapat restu. Ia bahagia. Ia perbanyak syukur, ia kembali mengencangkan ibadahnya. Ia tidak ingin lengah seperti sebelumnya.

10 April 2006
Hari ini Indra benar-benar memperoleh ‘aisyah si wajah imut bernama Diandra. Sejak pertemuan saat ta’aruf itu, Indra baru bertemu lagi dengan si wajah imut dua hari sebelum ijab kabul. Komunikasi ia lalui melewati ustadzah Anna. Ia benar-benar menjaga keberkahan dalam setiap proses menuju pernikahannya. Dan selama itu pula Indra masih penasaran, kenapa Diandra dulu menarik kembali biodatanya.

“Dik Dia, dulu kenapa menolak ta’aruf dan malah menarik biodata kembali ya?”
Dengan santai, Diandra menjawab simple tanpa beban, “Dulu saya menarik diri karena ada masalah keluarga yang harus diselesaikan. Saat saya sudah siap lagi, saya gak tahu kalau akan dita’arufkan dengan Mas.  Saya cuma diminta datang buat ta’aruf tanpa tahu dengan siapa akan dita’arufkan.” suara Diandra begitu lembut terdengar, indah.

“Dik Dia tahu, gak? Kalau dulu mas yang menerima biodata dengan pas foto hitam putih berukuran 3×4 itu.” ucap Indra dengan senyum yang dibalas senyuman malu-malu dari Diandra si wajah imut yang dinanti.

“Ya Allah, alangkah mudahnya Engkau mempertemukan kami. Kemudian Engkau pisahkan dan kemudian Engkau pertemukan kembali. Mahasuci Engkau, Ya Allah. Aku akan menjaga amanah-Mu dengan sungguh-sungguh.” ucap Indra sambil menatap Diandra. Ada butiran air mata yang jatuh perlahan menemani rasa syukur atas nikmat dan ujian yang silih berganti Allah berikan untuknya.

***
Diandra benar-benar datang tepat pada waktunya. Ia datang ketika Indra benar-benar ikhlas menerima siapapun. Bersyukur atas apa yang diberikan, menjaga niat dalam setiap langkahnya. Karena kesucian suatu tujuan menuntut kesucian cara dalam merealisasikannya. Seperti itulah Allah mencintai hamba-Nya.
Junkusay

Tentang Junkusay

Alumni Psikologi UMA. Aktivis KAMMI. Bercita-cita jadi Psikolog Anak. Pecinta dunia Traveling, photography, tulis menulis and ODOJers 63. [Profil Selengkapnya]


 
Support : Creating Website | Guru Tomo | Guru Tomo
Copyright © 12.12.2013. gurutomo - All Rights Reserved
Modifikasi by Creating Website Published by Guru Tomo
Proudly powered by Blogger