Walikota Surabaya Tri Rismaharini
yang menjadi buah bibir karena keberhasilannya membangun kota Surabaya,
mendadak ditimpa permasalaahan. Diberitakan dirinya akan mengundurkan
diri sebagai Wali Kota karena mendapat tekanan dari PDIP, parpol yang
justru menjagokannya.
Meskipun didesak oleh awak media untuk
berkomentar, akan tetapi Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak
menjawab secara tegas salah satu alasan keinginannya untuk mundur dari
jabatannya : Apakah karena dia menolak proyek tol dalam Kota Surabaya?
Jalan
raya, menurut Risma, seharusnya dapat diakses publik secara gratis.
Berbeda dengan jalan tol yang bisa dilalui publik dengan mengeluarkan
sejumlah uang. “Prinsipnya, kalau masyarakat bisa memanfaatkan jalan
secara gratis, kenapa harus bayar? Sedangkan jalan tol kan hanya dilalui
orang-orang tertentu,” kata Risma.
Risma berpendapat jalan
tol di dalam kota hanya akan mematikan bisnis di sekitarnya. Dampak
lainnya, kaki-kaki jalan tol akan menyebabkan banjir di daerah sekitar.
Karena berbagai alasan tersebut, Risma memutuskan untuk menolak
pembangunan jalan tol Surabaya.
“Saya hanya tak mau suatu saat
orang Surabaya mencaci-maki saya karena salah, meskipun saya sudah mati.
Iki tak gowo sak turunanku (Ini saya bertanggung-jawab kepada
keturunan saya),” kata Risma. Memimpin Kota Surabaya sejak Oktober
2010, Risma kini dilanda tekanan sejumlah kekuatan politik di ibu kota Jawa Timur itu.
Salah
satu tekanan justru datang dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) yang mengajukannya sebagai calon wali kota, tiga tahun silam.
Partai ini menyorongkan Wisnu Sakti Buana, Ketua PDIP Surabaya, sebagai
wakil wali kota pengganti tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan
Risma. Lebih dari sekadar tak cocok, Risma mengendus ada kepentingan
bisnis di balik penetapan Wisnu itu.
Risma menyatakan sama
sekali tidak masalah jika harus mundur. “Saya sudah berikan semuanya.
“Capek saya ngurus mereka, yang hanya memikirkan fitnah,
menang-menangan, sikut-sikutan.” Ketika ditanya siapa yang dimaksud
dengan “mereka”, Risma tidak mau menjawab.
Seperti diketahui
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku sudah capek dengan semua
masalah yang dihadapinya belakangan ini. Dia mengaku sangat siap untuk
meninggalkan jabatan sebagai Wali Kota Surabaya.
Ditanya apakah
dia tidak memikirkan masyarakat Kota Surabaya, Risma terlihat murung.
“Warga miskin yang aku pikirin. Tapi aku kan juga manusia. Aku sudah
berikan semuanya,” katanya sembari menahan air matanya yang nyaris
jatuh.
Menjadi seorang Wali Kota Surabaya sebenarnya bukan pilihan perempuan 52 tahun itu. Risma mengaku dipaksa untuk tetap maju menjadi orang nomor satu di Surabaya. Namun ia kini tertekan oleh sejumlah kekuatan politik.
Yang terasa aneh oleh publik, salah satu
tekanan justru datang dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
yang mengusungnya sebagai calon Wali Kota Surabaya tiga tahun silam.

Posting Komentar