TANYAKAN kepada orang Syiah: “Menurut Anda, siapa yang lebih berhak mewarisi jabatan Khalifah setelah Rasulullah wafat?” Dia pasti akan menjawab: “Ali bin
Abi Thalib lebih berhak menjadi Khalifah.” Lalu tanyakan lagi: “Mengapa
bukan Abu Bakar, Umar, dan Ustman?” Maka kemungkinan dia akan menjawab
lagi: “Menurut riwayat saat peristiwa Ghadir Khum, Rasulullah mengatakan
bahwa Ali adalah pewaris sah Kekhalifahan.”
Kemudian katakan kepada orang Syiah itu: “Jika memang Ali bin Abi
Thalib paling berhak atas jabatan Khalifah, mengapa selama hidupnya
beliau tidak pernah menggugat kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, Khalifah
Umar, dan Khalifah Utsman? Mengapa beliau tidak pernah menggalang
kekuatan untuk merebut jabatan Khalifah? Mengapa ketika sudah menjadi
Khalifah, Ali tidak pernah menghujat Khalifah Abu Bakar, Umar, dan
Ustman, padahal dia memiliki kekuasaan? Kalau menggugat jabatan Khalifah
merupakan kebenaran, tentu Ali bin Abi Thalib akan menjadi orang
pertama yang melakukan hal itu.”
Faktanya, sosok Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma berani menggugat
kepemimpinan Dinasti Umayyah di masa Yazid bin Muawiyyah, sehingga
kemudian terjadi Peristiwa Karbala.
Kalau putra Ali berani memperjuangkan apa yang diyakininya benar, tentu
Ali Radhiyallahu ‘Anhu lebih berani melakukan hal itu. [arief
hidayat/10 Logika Dasar Penangkal Syiah]
Sumber: islampos.com
Posting Komentar