By Asqi Resnawan
Saat gunung Sinabung dan Merapi menggeliat, masyarakat lereng gunung Kelud di kabupaten Kediri Jawa Timur,
menggelar ritual sesaji ''untuk berdamai'' dengan alam. Berdoa kepada
tuhan sekaligus menghormati leluhur dipercaya akan mendiami gunung
setingi 1.731 meter ini.
Warga lalu lalang menyiapkan ritual sesaji. Sejumlah gunungan yang dirangkai dari jajanan pasar dan hasil bumi pun siap di arak.
Acara dibuka dengan tarian sejumlah gadis, lantas sesaji-sesaji diarak warga lereng gunung. Ada lima desa yang hadir dalam sesajian, yakni desa sugihwaras, desa babadan, desa ngancar, desa panpantoyo, dan desa sempu. Semuanya terletak di lereng gunung kelud dengan wilayah kecamatan ngancar.
Warga lalu lalang menyiapkan ritual sesaji. Sejumlah gunungan yang dirangkai dari jajanan pasar dan hasil bumi pun siap di arak.
Acara dibuka dengan tarian sejumlah gadis, lantas sesaji-sesaji diarak warga lereng gunung. Ada lima desa yang hadir dalam sesajian, yakni desa sugihwaras, desa babadan, desa ngancar, desa panpantoyo, dan desa sempu. Semuanya terletak di lereng gunung kelud dengan wilayah kecamatan ngancar.
Di lokasi itu setiap bulan suro pada penanggalan jawa, warga lereng
gunung selalu mengadakan ritual sesaji untuk memohon perlindungan dari
letusan gunung kelud.
Namun, ritual kesyirikan tersebut tentu malah membuat pemilik alam Allah
Swt murka. Akhirnya pada Kamis (13/2/2014), gunung Keludpun meletus
dengan suara yang sangat dahsyat dan mengeluarkan ratusan ribu kubik
material vulkanis.
Hingga Ahad (16/2/2014) kemarin, ribuan warga mengungsi dan korban tewas gunung Kelud sebanyak 7 orang.
Menurut relawan Forum Umat Islam (FUI) untuk bencana alam, Ustaz Bernard Abdul Jabbar, ritual sesaji merupakan perbuatan syirik yang justru akan mengundang azab Allah.
"Dalam surat ar Rum ayat 41, Allah Swt menjelaskan bahwa kerusakan
(berupa bencana) di darat dan lautan itu disebabkan oleh perbuatan
manusia. Para ahli tafsir menerangkan yang dimaksud perbuatan tangan
manusia ini diantaranya ialah berupa kemusyrikan dan kemaksiatan yang
dilakukan oleh manusia. Dan bencana ini adalah teguran agar manusia
kembali ke jalan Allah (meninggalkan syirik dan maksiat)," papar ustaz
Bernard kepada Suara Islam Online, Senin (17/2/2014)
"Syirik harus segera ditinggalkan karena itu adalah perbuatan dosa yang
paling besar, dan tidak akan diampuni sebelum pelakunya bertobat," pesan
ustaz Bernard.(suara-islam/muslimina)


Posting Komentar