Oleh, Nuim Hidayat, Ketua DDII Kota Depok
Cara yang terbaik mengetahui tujuan penulis adalah melihat judul bukunya. Orientalis Bernard Lewis menulis The Roots of Muslim Rage dan The Crisis of Islam. Leonard Binder menulis Islamic Liberalism. Lewis ingin menyatakan Muslim itu penuh kekerasan dan Islam itu penuh masalah alias krisis. Binder ingin menyatakan bahwa Islam itu harus liberal dan lain-lain.
Para ulama juga menulis judul sangat menarik. Lihatlah Imam al Ghazali menulis judul Ihya’ Uluumud Diin, Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama. Ibnu Rusyd menulis Bidaayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid, Permulaan Mujtahid dan Tujuan Akhir. Sayid Qutb, ulama yang sangat dibenci Lewis, Binder dan para orientalis menulis Fi Zhilaalil Qur’aan dan Tashwiirul Fan fil Qur’aanil Kariim. Di bawah Bayang-Bayang Al Qur’an dan Keindahan Seni dalam Al Qur’an yang Mulia.
Waktu saya kecil pernah diajar oleh seorang Ustadz kampung -Ustadz
Kahar- kitab Ushfuuriyah. Tentang kisah burung kecil. Yaitu diantaranya
kisah bagaimana Sayidina Umar ra membebaskan burung-burung kecil yang
dibuat mainan anak-anak, hingga luka tubuhnya. Ketika ngaji di Pesantren
Sendang Tuban, sang kiyai mengajari kitab Nashaaihul Ibaad.
Nasehat-nasehat untuk hamba Allah.
Ketika mahasiswa Ustadz Mustafa Abdullah bin Nuh mengajar kitab at Tafkiir
(Pemikiran) karya Taqiyudin an Nabhani. Atau bacalah karya dia yang
lain seperti Sur’atul Badiihah (Pemikiran Cepat yang Menyambar). Dan
tulisan-tulisannya yang bermutu lainnya seperti Sistem Politik dalam
Islam, Sistem Ekonomi dalam Islam, Sistem Kemasyarakatan dalam Islam dan
lain-lain. Sayang kalau kita membaca karya-karya bermutu dari ulama hebat ini.
Ibnu Katsir menulis kitab hebat Al Bidaayah wan Nihaayah (Permulaan
dan Akhir). Tentang sejarah manusia. Dengan hafalan yang luar biasa dia
menulis fakta-fakta sejarah. Atau bacalah karya-karya ensiklopedik Ibnu
Taimiyah. Baik Majmuuul Fataawa (Kumpulan Fatwa), Ashaarimul Mashluul ilaa Syattir Rasuul (Pedang Yang Terhunus untuk Penghina Rasulullah saw) dan sebagainya.
Ulama-ulama mutakhir seperti Imam Hasan al Banna. Syekh Yusuf al
Qaradhawi, Syekh Muhammad al Ghazali, Syekh Mustafa Azami, Syekh
Abdurrahman al Baghdadi juga menulis karya-karya yang luar biasa
mendalam dan ilmiahnya. Maka bila kita bandingkan secara jernih dan
obyektif karya para ulama-ulama Islam dengan orientalis Barat seperti
Snouck Hugronje, Bernard Lewis, Atrhur Jefery dan lain sebagainya, maka
mereka tidak ada apa-apanya.
Para ulama Islam yang berilmu mendalam –baik dulu maupun sekarang–
bila menulis sangat tajam, jujur dan ‘obyektif’. Tidak seperti para
orientalis Barat yang kebanyakan tidak jujur, hanya kumpulan fakta-fakta
yang tidak sistematis dan sangat subyektif. Para orientalis non Islam
-apalagi Yahudi- bila menulis Islam mesti tendensius menghabisi isinya
atau menghabisi ‘kelemahan-kelemahan kecil’ yang dimiliki ulama itu.
Ilmuwan non Islam itu, dalam istilah Al Qur’an, telah terjangkit virus sangat berbahaya bagi manusia, yaitu hasad dan sombong.
Beda dengan para ulama. Meski para ulama –pewaris Nabi saw dan peniru
sahabat Rasulullah saw yang mulia– meski mempunyai ilmu yang mendalam,
jernih dan sangat kaya, tetap tawadhu’ (rendah hati), hormat kepada
orang lain, sabar bila dikritik dan senang saling nasehat menasehati.
Maka sabda Nabi saw ulama adalah pewaris Nabi maknanya mewarisi
ilmu-ilmunya dan akhlaqnya. Mencakup seluruh ilmu yang diperlukan dalam
kehidupan manusia. Baik ilmu yang diperlukan otak (tentang alam yang
nampak) maupun ilmu yang diperlukan jiwa (alam yang tidak nampak atau
‘samar’).
Maka sebutan ulama adalah khusus kepada mereka yang mempunyai
pemahaman mendalam dan jernih tentang suatu masalah. Yakni bila
seseorang mengaitkan peristiwa-peristiwa alam semua ini dengan Tauhid
(keyakinan adanya Allah SWT), maka ia disebut ulama. Maka Al Qur’an
menyatakan : ‘Innamaa yakhsyaLlaaha min ibaadihil ulamaa’u’ (bahwasanya yang takut kepada Allah adalah ulama).
Seorang ilmuwan meski dia ahli nuklir, ahli pesawat terbang, ahli
neuron, ahli fisika dan lain-lain, bila membahas sesuatu melupakan
keberadaan Allah SWT (Tauhid) maka ia tidak berhak menyandang gelar
ulama. Bila ia mengaitkan itu semua dengan Tauhid –apalagi ia memahami
kaitan ayat Al Qur’an dan as Sunnah berkaitan dengan bidang keahliannya–
maka ia berhak menjadi Ulama.
Sebaliknya ulama juga bukan hanya mereka yang hafal Al Qur’an atau
Hadits belaka. Apalagi tidak faham maknanya. Seorang ulama mesti faham
makna-makna yang ia kaji/baca dalam Al Qur’an dan Hadits. Bila ia tidak
faham –misalnya karena kelemahan bahasa Arabnya– ia sekuat tenaga
mencari artinya.
Selain itu ia selalu mengaitkan Al Qur’an dan as Sunnah ini dalam
kehidupan manusia. Karena al Quran dan as Sunnah bukanlah teori belaka
untuk dihafal atau diulang-ulangi bacaannya belaka (meski ini penting
dan berpahala dan perlu bagi anak-anak kecil atau remaja), tapi ia mesti
dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa atau fakta-fakta kehidupan.
Dalam bahasa ulama, Al Qur’an dan as Sunnah adalah solusi bagi kehidupan atau permasalah manusia (muaalajatul masyaakilil insaan).
Maka dalam Islam, tidak dipisahkan antara ulama dengan eksekutif atau
pejabat negara. Dalam Islam, mereka yang mengurusi masalah masyarakat,
baik mulai tingkat kelurahan, kabupaten, negara atau dunia, haruslah
ulama. Yakni mereka yang faham terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan
masalah pemerintahan itu dan faham terhadap ayat-ayat Al Qur’an dan as
Sunnah yang terkait dengan bidangnya.
Begitu juga seorang guru. Mereka harus faham ayat-ayat Al Qur’an dan
as Sunnah berkaitan dengan akhlaq guru, akhlaq murid, metode mengajar
yang tepat dan sebagainya. Begitu juga seorang pedagang, mesti faham
terhadap ayat-ayat Al Qur’an as Sunnah yang berkaitan dengan hukum-hukum
dagang dan seterusnya. Bila mereka faham mendalam tentang bidang yang
digelutinya dan kaitannya dengan Al Qur’an dan as Sunnah maka mereka
ulama.
Jadi dalam Islam tidak ada ulama yang hanya menjadi peneliti belaka,
seperti yang terjadi dalam tradisi Barat. Atau tradisi
universitas-universitas kita, yang jenjangnya sangat panjang dari S1 s/d
S3. Biasanya mereka yang telah menjadi sarjana, puas setelah menjadi
peneliti belaka.
Apalagi bila telah mendapat gaji yang besar. Seolah-olah tidak ada
kewajiban bidang garapan ilmu yang ditelitinya harus diterapkan dalam
masyarakat (yakni diambil kebijakan). Apa artinya ilmu bila hanya
menjadi percakapan belaka? Hanya menjadi tulisan-tulisan yang tersimpan
dalam rak-rak perpustakaan universitas?
Maka Rasulullah saw mengajarkan pada kita doa yang bagusnya tiap hari kita baca, “Allaahumma inni auudzu bika minal ilmi laa yanfa’” (Ya Allah jauhkanlah aku dari ilmu yang tidak bermanfaat) atau Rabbii zidnii ilma, warzuqni fahma wajalni min abaadikash shaalihiin (Ya Rabbi tambahkanlah ilmu padaku, berikanlah aku pemahaman dan jadikanlah aku sebagai hamba-hambaMu yang shaleh). Walaahu a’lam bishshawaab. [islampos.com]


Posting Komentar