LELAKI itu menghantam sanubari saya. Pilihannya mantap, semantap
keyakinannya untuk tidak lagi menolehi partai Islam sekalipun. Lelaki
saleh itu berujar dalam statusnya, “Ketika konstitusi hanya mengijinkan
para politisi yang memimpin negeri ini,
maka gerakan Golput adalah kemestian yang harus diperjuangkan demi masa
depan negeri ini. karena hanya cara itu yang tersisa untuk meyakinkan
khalayak bahwa kita sama sekali tak butuh politisi…”
Sepekan lalu saya masih berharap, ia sekadar bercanda nakal kepada mantan jamaah cum
partai yang disimpatikinya. Sebagai kritik, masukan lelaki dai dan
dosen—singkatnya pendidik—ini amat berharga. Jangan sampai gerakan
dakwah dalam baju partai terus beranjak pada pragmatisme.
Kemuakannya pada perilaku partai sudah semakin membumbung, tampaknya.
Jejaknya di masa lalu tidak sinkron dengan gerak ideal beberapa politisi
yang diamani memimpin partai (atas nama) umat sekalipun.
Saya juga masih menerima ketika dengan cerdas
lelaki itu menjelaskan hakikat dakwah dalam berpartai. Sebuah ulasan
menarik yang langsung seketika meraih banyak jempol dari pembacanya.
Kita tersadar bahwa berjuang demi menegakkan kalimat Allah di Bumi
Nusantara tidak melulu melalui partai. Karena toh maraknya penggunaan
jilbab pun diawali dan dikawal oleh gerakan di luar partai. Bukan dari
partai politik ketika itu. Teramat banyak contoh yang bisa diajukan
bahwa tanpa partai pun, kita—umat Islam—bisa eksis dan memperjuangkan
hak aspirasinya.
Menilik wacana dalam status tadi, teringatlah saya pada Buya Natsir.
Bukan tersebab dendam pada Soeharto dan rezim Orde Baru yang melarang
Masyumi muncul kembali. Bukan lantaran partai adalah segala-galanya.
“Demi berpartai”, Natsir berpaling pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Sebuah partai gurem yang memang belum ideal dibandingkan partai yang
pernah dipimpinnya. Ideal dalam arti kebesaran pendukung ataupun
kemuliaan akhlak. PPP tidak ideal, tapi atas nama persatuan dan
perjuangan, Buya Natsir membela. Sekumpulan kampret berkerah putih dan
biru ada di partai besar umat Islam ini, tapi Natsir bergeming. Ada yang
lebih penting dibela ketimbang mengharuskan partai bersih lebih dulu
dari para kampret itu.
Mencoba bijak dengan seribu kilah sejatinya hanya menandai kita
siapa. Sealim apa pun kita berdalil, akan tetap jejak siapa diri kita
terhadirkan. Kalaulah kita tidak mengerti masalah, pandirnya si awam
dengan memilih Golput adalah bentuk toleransi. Golput sering kali dan
selalu gara-gara politisi. Ini Golput politis. Lain halnya dengan sebab
teknis, gagal mencoblos karena tidak terdaftar atau sakit mendadak. Soal
Golput teknis kita abaikan dalam bahasan di sini.
Golput adalah wajah sebuah dendam. Ia manifestasi dari pengalaman
kekecewaan. Bukan dosa si pelakunya memang. Lagi-lagi, ini semua
perilaku makhluk bernama politisi. Mereka membuat kita yang pernah
menaruh asa
tinggi-tinggi atas nama hormat dan kehormatan agama, di kemudian hari
malah dikhianati. Dus, jadilah kita merasa paling tersakiti dan harus
merasa demikian sebagai seorang anutan.
Seperti Buya Natsir, saya ingin berperilaku sederhana saja dan tidak
mau menghakimi orang secara kacamata buta. Sebenci hati ini menggumpal
pada politisi yang kita harapkan, adalah takelok menimpakan pada partai
secara kolektif. Potensi-potensi kebaikan
telanjur kita tutupi karena keinginan kita menutupi marwah diri agar
citra diri kita tetap bersih dari “dosa” para politisi yang kita rutuki
itu. Politisi polos nan pandir yang tidak tahu apa pun kita emohi. Kita
mengabaikan bahwa mereka yang polos nan pandir itu belum tentu sehinanya
dengan koleganya di partai yang berbuat nista. Atau, belum tentu
sebersihnya catatan di lembaran Malaikat Pencatat Amal layaknya seperti
kita.
Memilih Golput adalah pilihan, tetapi mendendam bukan sebuah pilihan
yang bebas rekayasa. Kita bisa mengolah dendam dengan maaf sebagaimana
Nabi Muhammad teladankan kepada umatnya. Benci kepada teman lama yang
”berkhianat” lantaran membelok dari “jalan Sunnah” juga sebentuk tanda
cinta yang abadi. Hanya, haruskah dengan membelokkan muka dan tangan
untuk tidak mendukung kala teman lama berjuang? Mengapa kita yakin
hidayah ada di Tangan Allah, tapi kita tidak meyakini Tangan Allah tidak
bakal mengubah teman lama yang kadung membelok dari “jalan Sunnah” itu?
Sebijak buya Natsir, bersikap bersahaja tanpa beban berat tapi
kedepankan ukhuwah adalah teladan. Sebuah teladan yang kontekstual dan
relevan sesuai fikih realitas di negeri ini. Baiklah, abaikan ketaatan
kita pada fatwa haramnya Golput dari MUI. Tapi, tegakah kita dengan
siapa penikmat dari hadirnya kita sebagai penyeru Golput? Mungkin lelaki
dai itu sudah jengah dan bosan dengan dalil kritikan atas seruan Golput
akan untungkan kaum sekuler dan non-Islam. Mungkin karena pertolongan
Allah sudah sedemikian membesarnya ada di hati mereka sehingga tanpa
ikhtiar melalui perjuangan teman di partai, kehendak-Nya pasti bisa
dijumpai di tanah air kita tercinta ini. Maka, atas duli apa dengan
kecemasan seruan Golput bakal menghentikan dakwah di parlemen?
Karena Golput adalah refleksi dendam, ia akan selalu membantah.
Inilah wataknya. Tidak ada penyeru Golput politis yang tidak pendendam.
Terlebih Golput tipe orang alim berislam yang kadung pernah menaruh
harapan tinggi di masa silam. Kita kecewa, kadar kemurnian keislaman
kita tercemari. Maka, memilih puritan dengan ber-Golput adalah cara
bertobat hari ini.
Sekali lagi, seruan Golput adalah sah, hanya saja ia riak dari
sekumpulan kotoran yang menggumpal di tenggorokan kita. Ia kudu dibuang
agar saluran pernapasan kita lancar. Golput boleh diserukan, tapi kudu
divisikan agar umat selamat. Bukan sesat gara-gara kita ingin selamat
tapi telanjur bikin kiamat umat dan abaikan seruan banyak ayat.
Buya Natsir yang paham betul bagaimana gerak kalangan umat lain di
negeri ini, lebih saya ikuti daripada petuah dai moncer di status Facebook. Meski kami sama pernah dikecewakan partai Islam pendaku partai dakwah, tapi saya memilih berboncengan dengan qaul Buya Natsir. Urusan internal partai Islam, biarlah saya tidak merasa tidak lagi bagian dari tubuhnya.
Tapi, saat partai-partai Islam tercabik-cabik lantaran kepandirannya,
apakah kita kudu ikut mengumbar aibnya di media sosial hingga mendulang
keriuhan simpati dari para mantan simpatisan partai tersebut yang kini
satu shaf bersama kita, lantas ujungnya kita serukan Golput sebagai
klimaks amarah kita yang diaurati baju kokoh rajutan Timur Tengah? Saya
memilih sederhana saja: mau pilih arah politik
aneh-aneh sekalipun, selagi ia masih banyak orang Islam di dalamnya
yang potensi saleh, teramat sayang kita tidak percayai hadirnya barakah
dari langit. Dus, saya hanya mau mengamalkan satu teladan Nabi:
memaafkan. Bila memaafkan saja susah, apatah lagi ketika dimintai
berjuang bersama. Bukan memaafkan si politisi busuk di partai dakwah,
melainkan memaafkan diri kita dan kelemahan teman kita di partai dakwah
yang gagal mengerem temannya yang busuk tadi. [islampos.com]
Posting Komentar